Minggu, 22 Maret 2009

TEORI GESTALT

Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebuh dari pada bagian- bagiannya.
Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting, antara lain :

1.Manusia bereaksi dengan lingkunganya secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional,sosial dan sebagainya
2.Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
3.Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa, lengkap dengan segala aspek-aspeknya.
4.Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.
5.Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.
6.Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi membei dorongan yang mengerakan seluruh organisme.
7.Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.
8.Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang diisi.

Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahakan masalah. Hal ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Kemudian bagaiman seseorang itu dapat memecahknan masalah mrnurut J. Dewey ada 5 upaya pemecahannya yakni:

1.Realisasi adanya masalah. Jadi harus memehami apa masalahnya dan juga harus dapat merumuskan
2.Mengajukan hipotesa, sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan masalah.
3.Mengumpulkan data atau informasi, dengan bacaan atau sumber-sumber lain.
4. Menilai dan mencobakan usah pembuktian hipotesa dengan keterangan-keterangan yang diperoleh.
5.Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil pemecahan soal itu.

Sabtu, 14 Maret 2009

Proses Pembentukan Karbohidrat

Proses Pembentukan Karbohidrat

Didalam pemilihan bahan baku hasil tanaman yang tepat harus memperhatikan dari segi kandungan karbohidrat. Bahan baku hasil tanaman yang baik yaitu yang mempunyai kandungan karbohidrat yang tinggi sebagai sumber kalori bagi tubuh.

Untuk mengetahui apakah bahan baku tersebut mengandung karbohidrat yang tinggi atau tidak dapat dipelajari dari sifat fisiologi dalam hal proses pembentukan karbohidrat.

Sifat fisiologi khusus di miliki tumbuhan yaitu kemampuan untuk menggunakan zat karbon dari udara untuk di ubah menjadi bahan organik serta di asimilasikan di dalam tubuh tanaman. Peristiwa ini disebut fotosintesis dan hanya berlangsung jika cukup cahaya. Fotosintesis atau asimilasi zat karbon adalah suatu proses di mana zat-zat anorganik H2O dan CO2 oleh klorofil di ubah menjadi zat organik karbohidrat dengan bantuan cahaya (energi sinar-energi kimia( karbohidrat ). Pada peristiwa respirasi energi kimia ini di ubah menjadi tenaga kerja rangkaian proses kehidupan , di samping asimilasi zat karbon ada asimilasi zat lemas (nitrogen) peristiwa ini berlangsung tanpa cahaya di sebut kemosintesis yang merupakan langkah pertama dalam rangkaian proses pembentukan protein. Protein tidak mungkin di susun tanpa adanya hasil fotosintesis sehingga fotosintesis itu merupakan kegiatan pokok reaksi kimia yaitu 6CO2+6H2O cahaya-klorofil menghasilkan C6H12O6+6O2 (karbohidrat). Kebalikan dari fotosintesis adalah respirasi/pernapasan yaitu suatu proses pembongkaran. 6CO2+6HO2 klorofil+ cahayaC6H12O6+6HO2

Macam-macam faktor yang berpengaruh terhadap proses fotosintesa adalah ;

a. Cahaya adalah merupakan sumber energi sangat besar pengaruhnya dalam proses fotosintesa. Pengaruhnya tergantung pada:

· Intensitas Cahaya sama dengan banyaknya energi cahaya yang di terima persatuan luas persatuan waktu makin tinggi intensitas cahaya akan makin bertambah besar kecepatan fotosintesanya sampai suatu faktor(dalam hal ini kadar CO2) menjadi faktor terbatas.

· Lamanya Penyinaran

· Kualitas Cahaya

Pada umbuhan tinggi pada umumnya kecepatan fotosintesa yang maksimum terdapat pada daerah sinar biru dan daerah sinar merah sedang pada kebanyakan algae kecepatan fotosintesa yang maksimum terdapat pada daerah sinar hijau.

b. Temperatur

Sampai pada suatu titik tertentu kecepatan fotosintesa akan meningkat dengan makin naiknya suhu. Temperature terlalu tinggi enzim menjadi inaktif san terjadi penurunan fotosintesa.

c. Kadar CO2

d. Kadar Air

e. Pengaruh senyawa senyawa kimia tertentu seperti dalam klorofil N, K dan Fe.

f. Pengaruh kadar oksigen, makin tinggi oksigen akan menurunkan fotosintesa

Kabohidrat sebagai hasil pokok fotosintesis 75 % tubuh tanaman terdapat karbohidrat. Persenyawaan karbohidrat mempunyai 2,3,4,5,6,7,8,9,10 zat karbon dalam tanaman hanya 5 dan 6 zat karbon

6 zat karbon: heksosa (C6 H12 O6) contohnya glukosa = dekstrosa (gula anggur), fruktosa, galaktosa dan manosa.

2,3,4 atau lebih monosakarida disebut di-tri-tetra-polysakarida (gula majemuk)

Polisakarida yang terdiri dari pentosa seperti pentosan (araban-silan). Terdiri dari heksosa seperti heksosan missal :glikogen-selulosa-amilum(tepung), inulin-hemiselulosa (tidak larut dalam air tidak manis)

Gula yang terdiri dari 2 monosakarida di sebut di sakarida misalnya selobiosa, laktosa,maltosa,sukrosa,melibiosa terdiri dari 3 monosakarida di sebut trisakarida misalnya rafinosa,gentianosa.

Selasa, 01 Juli 2008

NILAI-NILAI PENDIDIKAN

  1. Program Pendidikan Anak Usia Dini
    Program ini bertujuan agar semua anak usia dini baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya dan tahap-tahap perkembangan atau tingkat usia mereka dan merupakan persiapan untuk mengikuti pendidikan jenjang sekolah dasar. Secara lebih spesifik, program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bertujuan untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan pendidikan melalui jalur formal seperti TamanKanak-Kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA) dan bentuk lain yang sederajat, jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk lain yang sederajat, dan jalur informal yang berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yangdiselenggarakan oleh lingkungan, dalam rangka membina, menumbuhkan dan mengembangkan seluruh potensi anak secara optimal agar memiliki kesiapan untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya.
    Sasaran program adalah:

    1. Meningkatnya angka partisipasi pendidikan anak usia dini.

    2. Tumbuh dan berkembangnya peserta didik pendidikan anak usia dini sesuai dengan tahap-tahap perkembangan dan usia peserta didik.

    3. Meningkatnya kesiapan lulusan anak usia dini untuk memasuki jenjang pendidikan dasar.



  1. Program Wajib Belajar Pendidikan 9 Tahun
    Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan dasar yang bermutu dan terjangkau, baik melalui jalur formal maupun non-formal yang mencakup SD termasuk SDLB, MI, dan Paket A serta SMP, MTs, SMPLB dan Paket B, sehingga seluruh anak usia 7–15tahun baik laki-laki maupun perempuan dapat memperoleh pendidikan, setidak-tidaknya sampai jenjang sekolah menengah pertama atau yang sederajat.
    Sasaran program adalah:

    1. Meningkatnya APK Pendidikan Dasar dari 87,35 % pada tahun 2004 menjadi 100 % pada tahun 2010.

    2. Meningkatnya APM Pendidikan Dasar dari 79,93 % pada tahun 2004 menjadi 95 % pada tahun 2010.



  1. Program Pendidikan Menengah
    Tujuan Program yaitu:

    1. Memperluas jangkauan dan daya tampung SMU, SMK, dan MA bagi seluruh masyarakat.

    2. Meningkatkan kesamaan kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi kelompok yang kurang beruntung, termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil dan perkotaan kumuh, daerah bermasalah dan masyarakat miskin, dan anak yang berkelainan.

    3. Meningkatkan kualitas pendidikan menengah sebagai landasan bagi peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan kebutuhan dunia kerja.

    4. Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pendidikan yang tersedia.

    5. Meningkatkan keadilan dalam pembiayaan dengan dana publik.

    6. Meningkatkan efektivitas pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi setempat.

    7. Meningkatkan kinerja personel dan lembaga pendidikan.

    8. Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk mendukung program pendidikan.

    9. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan.

Sasaran oleh program pembinaan pendidikan menengah yaitu :

    1. Meningkatnya angka partisipasi kasar ( APK ) SMA, SMK, dan MA.

    2. Meningkatnya daya tampung SMA/MA/SMK.

    3. Meningkatnya kualitas pendidikan menengah sebagai landasan bagi peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan kebutuhan dunia kerja.

    4. Terwujudnya organisasi sekolah yang lebih demokratis, transparan, efisien, terakunkan (accountable) serta mendorong partisipasi masyarakat.

    5. Terwujudnya manajemen pendidikan yang berbasis sekolah / masyarakat (school/community based management).



  1. Program Pendidikan Tinggi
    Tujuan program yaitu:

    1. Meningkatkan kapasitas tampung terutama untuk bidang–bidang yang menunjang kemajuan ekonomi, penguasaan sains, teknologi dan Pemahaman Keagamaan.

    2. Meningkatkan peran swasta melalui perguruan tinggi swasta.

Sasaran Program yaitu:

    1. Berkembangnya perguruan tinggi di wilayah Kabupaten Sukabumi.

    2. Meningkatkan minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke pendidikan tinggi.

    3. Mendorong mutu PT yang sesuai dengan ciri, potensi dan tuntutan daerah.

  1. Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan
    Program ini bertujuan untuk:

    1. Meningkatkan kecukupan jumlah, kualitas, kompetensi dan profesionalisme pendidik baik laki-laki maupun perempuan pada satuan pendidikan formal dan non formal, negeri maupun swasta, untuk dapat merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran dengan menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta mempunyai komitmen secara profesional dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

    2. Meningkatkan kecukupan jumlah, kualitas, kompetensi dan profesionalisme tenaga kependidikan untuk mampu melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan baik formal maupun non formal, negeri maupun swasta.

Sasaran program adalah:

    1. Meningkatnya rasio pelayanan pendidik dan tenaga kependidikan terhadap peserta didik dengan tetap memperhatikan pemerataan efisiensi dan efektivitasnya.

    2. Meningkatnya kualitas pendidik dan tenaga kependidikan untuk setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan.

    3. Meningkatnya kesejahteraan dan perlindungan hukum pendidik dan tenaga kependidikan.

    4. Terbangunnya kelembagaan sistem standardisasi dan sertifikasi kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan.



  1. Program Peningkatan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan
    Program ini bertujuan untuk mengembangkan budaya baca, bahasa, sastra Indonesia dan daerah dalam masyarakat secara merata termasuk peserta didik dan masyarakat umum guna membangun masyarakat berpengetahuan, berbudaya, maju dan mandiri.
    Sasaran program adalah:

    1. Meningkatnya budaya baca masyarakat.

    2. Berkembangnya sinergi antara perpustakaan daerah, provinsi, nasional dengan perpustakaan sekolah dan taman bacaan masyarakat.

    3. Meningkatnya perluasan pelayanan perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah dan taman bacaan masyarakat.

    4. Meningkatnya ketersediaan bahan bacaan untuk peserta didik dan masyarakat umum.



  1. Program Manajemen Pelayanan Pendidikan
    Program ini bertujuan untuk meningkatkan koordinasi dan kemitraan dalam mengembangkan kebijakan, melakukan advokasi dan sosialisasi kebijakan pembangunan pendidikan, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan pendidikan.
    Sasaran program adalah:

    1. Tersusunnya berbagai peraturan daerah yang dibutuhkan untuk pelaksanaan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

    2. Meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan dan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan.

    3. Tersusunnya sistem pembiayaan pendidikan yang berkeadilan.

    4. Meningkatnya kapasitas institusi pengelola pendidikan.

    5. Tersusunnya sistem pengelolaan pendidikan yang dapat merespon era globalisasi bidang pendidikan.

    6. Tersusunya sistem pengawasan pembangunan pendidikan.



  1. Program Pendidikan Luar Sekolah
    Program ini bertujuan untuk memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat yang tidak berpendidikan formal guna mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan keaksaraan, pendidikan kesetaraan untuk penduduk dewasa, pendidikan keluarga, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik secara lebih luas dan bervariasi.
    Sasaran program yaitu:

    1. Menurunnya angka Buta Aksara dari 3,77 % pada tahun 2004 menjadi 1,22 % pada tahun 2010.

    2. Meningkatnya ketersediaan pelayanan pendidikan luar sekolah.

    3. Meningkatnya minat penduduk dewasa untuk mengikuti pendidikan sepanjang hayat.

    4. Meningkatnya kualitas dan kompetensi lulusan pendidikan luar sekolah.

  2. Program Pendidikan Kedinasan
    Program Pendidikan Kedinasan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan, keterampilan dan profesionalisme pegawai dan calon pegawai negeri departemen atau lembaga pemerintah non departemen dalam pelaksanaan tugas kedinasan yang diselenggarakan melalui jalur pendidikan profesi.
    Sasaran program adalah:

    1. Tertibnya kelembagaan pendidikan kedinasan.

    2. Meningkatnya kualitas penyelenggaraan Pendidikan Kedinasan sesuai dengan standar Nasional.



  1. Program Pengembangan Nilai Budaya
    Program ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai luhur budaya daerah dalam rangka menumbuhkembangkan pemahaman dan penghargaan masyarakat pada budaya leluhur, keragaman budaya dan tradisi, meningkatkan kualitas berbudaya masyarakat, menumbuhkan sikap kritis terhadap nilai-nilai budaya, dan memperkukuh ketahanan budaya.
    Sasaran program ini adalah:

    1. Berkembangnya sistem nilai budaya daerah yang bersumber dari warisan budaya leluhur diperkaya oleh budaya baru yang serasi, kondusif serta tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama.

    2. Terwujudnya pemahaman dan penghargaan masyarakat pada budaya masyarakat lainnya.

    3. Berkembangnya kebebasan berkreasi dalam berkesenian.

    4. Terlindunginya pelaku seni dan budaya dari pelanggaran hak cipta; dan tersusunnya inventarisasi dan dokumentasi warisan budaya daerah.



  1. Program Pembinaan dan Pengembangan kesenian.
    Program ini bertujuan untuk mendorong dan mengembangkan kesenian sebagai ungkapan budaya bangsa sehingga mampu merangsang daya cipta seniman, sastrawan dan pelaku seni budaya lainnya, selain itu program ini bertujuan untuk mendorong apresiasi dan kreativitas seni pada masyarakat. Memperluas masyarakat menikmati seni dan budaya bangsa yang dapat memberikan inspirasi dan gairah membangun serta untuk mempererat hubungan antar daerah dan antar bangsa.
    Sasaran program:

    1. Meningkatnya kreativitas dalam berkesenian dengan tetap mengacu pada norma, etika, moral, estetika dan agama serta memberikan perlindungan dan penghargaan terhadap hak cipta royalti bagi pelaku seni budaya.

    2. Penggalian, pelestarian dan pendokumentasian kesenian daerah dan kebudayaan tradisional yang hampir punah serta menggalakkan dan membudayakan sentra-sentra kesenian dan induk-induk organisasi seni untuk merangsang berkembangnya kesenian daerah yang lebih kreatif dan inovatif sehingga menumbuh kembangkan daerah.



  1. Program Pembinaan dan Peningkatan Partisipasi Pemuda dan Olah raga
    Tujuan program ini adalah untuk memberi peluang yang lebih besar kepada pemuda guna memperkuat jati diri dan potensinya dengan berpartisipasi aktif dalam pembangunan.
    Sasaran program:

    1. Meningkatnya partisipasi pemuda dalam lembaga sosial kemasyarakatan dan organisasi kepemudaan.

    2. Meningkatnya jumlah wirausahawan muda.

    3. Meningkatnya jumlah karya, kreasi, karsa dan apresiasi pemuda di berbagai bidang pembangunan.

    4. Menurunnya jumlah kasus dan penyalahgunaan narkoba oleh pemuda serta meningkatnya peran dan partisipasi pemuda dalam pencegahan dan penanggulangan narkoba.

    5. Menurunnya angka kriminalitas yang dilakukan pemuda.

    6. Meningkatnya peranserta masyarakat dan pemuda dalam peningkatan kualitas berolahraga baik olahraga prestasi, kesehatan dan rekreasi serta olahraga pendidikan.

www.depdiknas.go.id/renstra/ind/bag4.pdf

NILAI KEMANUSIAAN

Masyakat adil makmur tercermin dari adanya sikap toleransi yang tinggi yang menimbulkan kesediaan berkompromi untuk menjalin ikatan persaudaraan bersama sehingga membentuk keutuhan budaya. Masyarakat yang tertindas dan miskin tercermin dengan adanya sikap ekstrim yang mengakibatkan suburnya sikap eksklusif yang mengarah pada renggangnya ikatan sosial-budaya. Maka, dalam jalinan warga yang erat, potensi kecerdasan rakyat meningkat menuju kemajuan peradaban; dan dalam jalinan warga yang terpecah potensi kecerdasan rakyat menjadi lemah sehingga kemajuan suatu bangsa mengalami hambatan dan kemunduran.

Majunya peradaban bangsa adalah gambaran bahwa nilai- nilai azasi masyarakat masih kokoh sehingga perlu dipertahankan. Kemunduran peradaban mencerminkan bahwa nilai-nilai azasi bangsa sudah rapuh sehingga perlu perubahan atau pergantian. Dimana nilai-nilai yang diakui sebagai dasar kehidupan bersama sudah tidak memberikan vitalitas dan manfaat bagi masyarakatnya. Karenanya perlu dilakukan suatu upaya untuk menggali nilai-nilai kebenaran dalam sejarah bangsanya. Selain membandingkan dengan kehidupan bangsa lain untuk menjadi alternatif bagi perubahan nilai azasi demi terciptanya nilai-nilai baru yang dibutuhkan sehingga krisis peradaban dapat terhindarkan.
Karenanya nilai azasi bangsa yang benar adah nilai azasi yang punya manfaat jangka panjang (nilai-nilai yang visioner) bagi pemenuhan tuntutan dasar rakyat untuk menuntun tahapan-tahapan perkembangan masyarakatnya (Pancasila, sebagai dasar negara). Nilai-nilai azasi yang salah adalah nilai-nilai yang tidak memiliki manfaat meskipun dalam jangka pendek bagi terpenuhinya tuntutan dasar rakyat. Karenanya selalu menjadi penghambat (tradisional, jumud) kemajuan dalam hidup bermasyarakat.
Hancurnya suatu peradaban serta mandegnya (stagnasi) kemajuan suatu masyarakat, dengan demikian memiliki dua kemungkinan, pertama, diakibatkan hukum alam bahwa satu kesatuan dari alam semesta sebagai makhluk Tuhan pasti mengalami kepunahan, kemusnahan, dan kematian. Kedua, tingginya suatu peradaban menunjukan kedalaman pribadi warga masyarakatnya dalam meyakini identitasnya.

ttp://kahmibulaksumur.net/index.

MENINGKATKAN {"INSANI DENGAN POTENSI YANG ADA

Pembelajaran masa kini dirancang dengan berbagai model pembelajaran berdasarkan multikarakter siswa dan multikonteks belajar dengan berorientasi pada konsep bahwa (1) setiap peserta didik adalah unik. Peserta didik mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Oleh karena itu, proses penyeragaman dan penyamarataan akan membunuh keunikan tersebut. Keunikan harus diberi tempat dan dicarikan peluang agar dapat lebih berkembang; (2) anak bukan orang dewasa dalam bentuk kecil. Jalan pikir anak tidak selalu sama dengan jalan pikir orang dewasa. Orang dewasa harus dapat menyelami cara merasa dan berpikir anak-anak. Yang terjadi justru sebaliknya, pendidik memberikan materi pelajaran lewat ceramah seperti yang mereka peroleh dari bangku sekolah yang pernah diikuti; (3) dunia anak adalah dunia bermain tetapi materi pelajaran banyak yang tidak disajikan lewat permainan. Hal itu salah satunya disebabkan oleh pemberian materi pelajaran yang jarang diaplikasikan melalui permainan yang mengandung nuansa filsafat pendidikan; (4) usia anak merupakan usia yang paling kreatif dalam hidup manusia. Namun, dunia pendidikan tidak memberikan kesempatan bagi kreativitas anak.


www.garduguru.blogspot.com/2008_03_01_archive.html - 192k


Senin, 23 Juni 2008

Pelajar lahir bayi bawah tangga

KUALA TERENGGANU - Dalam usia masih muda, seorang pelajar perempuan di sebuah sekolah agama pondok di sini terpaksa menahan kesakitan melahirkan bayi seorang diri di bawah tangga di blok asrama.

Dalam kejadian Jumaat lalu, pelajar berusia 17 tahun itu dipercayai memilih lokasi tersebut kerana ia jarang dilalui pelajar lain.

Paling mengejutkan bayi perempuan berusia tujuh bulan yang dilahirkan kira-kira pukul 12 tengah hari itu hanya mampu hidup selama lima minit sahaja.

Ketua Polis Daerah Kuala Terengganu, Asisten Komisioner Zamri Shamsuddin memberitahu, pelajar tersebut kemudiannya membalut mayat bayi itu dengan baju sejuk, skirt dan seluar dalamnya.

Ujarnya, bayi malang itu dimasukkan ke dalam baldi berwarna merah sebelum dibawa ke belakang asrama perempuan dan diletakkan di bawah ampaian kain.

"Penemuan mayat bayi yang cukup sifat itu hanya disedari pelajar selepas terhidu bau busuk.

"Mayat bayi yang masih belum berulat itu ditemui dengan tali pusatnya sudah dipotong sendiri oleh ibunya," katanya ketika ditemui di sini semalam.

Katanya, penemuan mayat itu telah dimaklumkan kepada pihak polis oleh pengetua dan anggota polis tiba di tempat kejadian kira-kira pukul 6.30 petang semalam.

"Polis telah menyoal siasat para pelajar secara rambang bagi mendapat maklumat berhubung penemuan bayi berkenaan," katanya.

Akhirnya, ujar beliau, seorang pelajar perempuan yang berasal dari Hulu Terengganu mengaku ibu kepada bayi berkenaan.

Sekolah tersebut mempunyai asrama berasingan untuk pelajar lelaki dan perempuan.

www.kosmo.com.my

Sumber : agiberita.blogspot.com/2008/06/pelajar-sekolah-agama-buang-bayi.html - 39k - Cached - Similar pages - Note this

Minggu, 22 Juni 2008

yang ANEH DALAM PENDIDIKAN

Homeschooling berstandar internasional

RERERENSI & RESOURCES


Written by Aar

Wednesday, 09 April 2008

Jika dibutuhkan sertifikasi dan ijazah, para praktisi homeschooling tidak hanya berkutat dengan Ujian Persamaan yang diadakan pemerintah. Banyak alternatif lain yang terbuka dan bisa dilakukan oleh praktisi homeschooling. Termasuk diantaranya jika mau mencari standard pendidikan tingkat internasion

Salah satu peluang untuk homeschooling (dan juga siswa sekolah) adalah ujian yang diselenggarakan oleh University of Cambridge, yang bernama IGCSE (The International General Certificate of Secondary Education). Ujian ini diakui di 150 negara di dunia dan dijadikan sebagai standar di berbagai negara, seperti Singapura dan Malaysia. Di Indonesia, ujian ini hanya diikuti oleh siswa-siswa anak sekolah internasional yang SPP bulanannya jutaan.

Padahal, peluang untuk ikut ujian itu tak hanya milik anak sekolah mahal dan orang kaya. Siapapun bisa mengikuti ujian tersebut, baik siswa sekolah maupun anak homeschooling. Yang penting daftar (per mata pelajaran) dan lulus ujiannya.

Berbeda dengan sistem sekolah yang mensyaratkan ujian dan kenaikan kelas setiap semester, ujian Cambridge ini hanya dilakukan pada saat SMA (tepatnya kapan pun anak siap). Ada jenjang-jenjang ujian yang ada di bawahnya, tapi ujian-ujian tersebut tak wajib diambil Diambil boleh, tidak diambil dan langsung ujian IGCSE juga boleh.

Asyiklah… peluang sangat terbuka. Kurikulum acuan ada. Materi yang dipakai apa terserah. Semuanya semakin mudah dengan adanya internet.

Homeschooling berstandar internasional ini dibahas di eMagazine SekolahRumah bulan April 2008 . Informasi mengenai Ujian IGCSE bisa dibaca gratis dan lengkap di situs CIE.

Pendidikan Home Schooling ... ?

Sudah Adaptifkah dengan Pendidikan di Indonesia

Oleh Andi Trinanda

[praktisi pendidikan dan dosen di salah satu perguruan tinggi sawsta di Jakarta dan aktif sebagai ketua kelompok studi “SEMBILAN” di Jakarta]

Akhir-akhir ini kita sering saksikan mulai banyak bermunculan sekolah-sekolah dengan alternatif pendekatan dan metodologi pengajaran “link & mach yang cenderung praktis dan katanya lebih efektif mengelaborasi esensi pendidikan dengan aplikasi skill peserta didik. Program pendidikan tersebut sering kita kenal dengan istilah home schooling. Diseluruh dunia terdapat kurang lebih 6 juta home schooling tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Walaupun bagi kalangan praktisi pendidikan sendiri substansi pendidikan home schooling secara simplistis inheren dengan SMP terbuka, SMA terbuka, Universitas terbuka atau yang sekarang sedang trend adalah e-learning, namun memang ada kecenderungan bahwa home schooling agak “berbeda” jika dilihat dari tingkat fleksibilitas dan metodologi pengajarannya. Fleksibilitas konsep pendidikan home schooling memang an-sich mengacu kepada kompetensi praktis hubungan antara ketertarikan/kemauan dan hoby individual (baca : siswa) dengan orientasi cita-citanya bekerja atau menguasai bidang-bidang tertentu yang menjadi harapannya dalam bekerja. Fleksibilitas tersebut juga diukur dari metode belajar-mengajar yang tidak “terbelenggu” oleh dimensi ruang dan waktu secara formal serta menjamin tingkat kompetensi terealisir dengan baik. Dengan kata lain konsepsi link & mach memang cenderung lebih efektif jika para siswa belajar dalam tataran konsep pendidikan model ini. Apalagi jika kalangan dunia industri sudah menjalin kerja sama dan membangun hubungan dengan lembaga pendidikan home schooling misalnya mengenai pola standard alternatif bagi kompetensi para lulusan (baca : dalam hal ijasah dan nilai) yang selama ini menjadi domainnya pemerintah.Untuk menelaah lebih jauh tentang bagaimana pendidikan home schooling ini bisa lebih progresif berkembang di Indonesia, tentu tidak terlepas dari paradigma berfikir masyarakat yang mulai cenderung kritis dan selektif dan tentu saja evaluatif terhadap hasil yang sudah dicapai oleh pendidikan formal yang dikemas dan didesain oleh pemerintah. Secara empiris barangkali salah satu faktor yang mempengaruhi mengapa terjadi pergeseran dinamika pemikiran masyarakat terhadap pola pendidikan di Indonesia adalah salah satunya dikarenakan para orang tua murid sudah begitu menyadari bahwa sudah lama pendidikan kita di “hantui “oleh tingginya kekerasan sosiologis yang selama ini terjadi dalam interaksi dunia pendidikan kita. Kasus tawuran, seks bebas dan narkoba dikalangan pelajar dengan jumlah korban jiwa yang tidak sedikit adalah salah satu faktor yang menyebabkan para orang tua terbangun landasan berfikirnya untuk melakukan terobosan mencari pendidikan alternatif yang relatif “aman” buat anak-anaknya dan rezim diktatorianisme pendidik terhadap peserta didik yang selama ini menjadi budaya dalam pola pendidikan kita juga telah membuka mata sebagian masyarakat terutama para orang tua murid untuk lebih mempertimbangkan putra-putrinya untuk sekolah di pendidikan formal. Realitas lain yang perlu dicermati mengapa pendidikan home schooling ini menjadi pilihan alternatif masyarakat adalah ketika masyarakat mulai menyadari bahwa sebenarnya pola pendidikan formal di Indonesia belum menyentuh substansi kebutuhan riel tantangan dalam era globalisasi yang harus di respon secara kualitatif oleh peserta didik dengan menyiapkan kompetensi yang relevan dan obyektif terhadap kebutuhan skill mereka ketika mereka beraktivitas (bekerja atau berwirausaha). Memang selama ini bagi sebagian kalangan praktisi pendidikan, mereka menjustifikasi bahwa kebutuhan kompetensi tersebut tetap menjadi skala prioritas yang harus terus dikembangkan dalam setiap jenjang kurikulum. Melalui kurikulum berbasis kompetensi (KBK), dan sekarang berubah lagi menjadi kurikulum berbasis pengetahuan terpadu ditambah kurikulum lokal yang terus berganti. Konsep dan desain penerapan kurikulum tersebut dilakukan dengan pendekatan pemikiran dan teori tentang kecerdasan berganda, kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional dengan asumsi bahwa mereka (baca : para pakar dan praktisi pendidikan) menganggap bahwa setiap insan haruslah perlu diakui dan dihargai modalitas belajarnya. Para praktisi pendidikan menerapkan desain konsep pendidikan dalam berbagai strata dengan berupaya mengelaborasi tingkat intelektualitas ide dan gagasan akademiknya dengan pendekatan teoritical education an sich. Kecenderungan teoritical yang intens tersebutlah yang pada akhirnya menimbulkan problematik teoritis dalam dunia pendidikan kita. Implikasinya bisa kita lihat dari terlalu seringnya kurikulum berganti tanpa visi baik content maupun format penerapannya di lapangan. Akibatnya pula bukan cuma para guru yang kesulitan mengintepretasikan dan mengimplementasikan program kurikulum yang dibuat pemerintah, para siswa pun akhirnya “terbelenggu”untuk menerima konsep dan program pendidikan tersebut tanpa reserve. Kasus kontroversi output penerapan standard kelulusan untuk siswa yang baru-baru ini terjadi semakin menjadi salah satu pemicu kuat bagaimana persoalan standard dalam dunia pendidikan juga menjadi salah satu faktor penting mengapa masyarakat mulai beralih untuk lebih jauh melihat standard bukan secara lokal namun sudah jauh ke standard yang lebih bersifat mondial misalnya standard Amerika sampai standard ketaraf Internasional semisal lembaga pendidikan yang menerapkan sistem ISO dalam program pendidikannya. Dan salah satu aspek yang diangkat oleh program pendidikan home schooling ini adalah standard kompetensi internasional tersebut. Maka terjawab sudah bagaimana seharusnya stakeholders (pihak yang terlibat dan berkepentingan dalam dunia pendikan) termasuk dalam konteks ini juga pihak perusahaan dan instansi yang menampung dan mengakomodir kebutuhan tenaga kerja para lulusan untuk concern menyikapi maraknya pendidikan alternatif semisal home schooling ini dalam perspektif yang lebih otonom dan komprehensif, termasuk didalamnya memberikan solusi tentang otoritas standard kelulusan dan formalisasi pendidikan yang di atur secara baku dan menjadi domain pemerintah.Tinggal persoalannya adalah sejauhmana masyarakat lebih selektif memilih pendidikan home schooling ini, tidak semata-mata karena faktor status sosial karena memang biaya program pendidikan ini tidak sedikit (atau sekedar trend) saja. Melainkan karena memang masyarakat kita sudah memahami bagaimana konstalasi dan dinamika dunia pendidikan di era globalisasi ini yang menuntut segi otentitas dan kultur lingkungan mondial berkaitan dengan skill dan kompetensi. Kredibilitas program pendidikan home schooling ini bukan hanya diukur dari tingkat fleksibilitas dan kesan informalistik dengan nuansa yang lebih persuasif dan menyenangkan saja, dimensi belajar mengajar yang tidak terbelenggu oleh ruang dan waktu dengan model on the job method maupun off the job method, garansi dan konsepsi link & mach dengan dunia usaha dan industri dan sebagainya. Namun tingkat kredibilitas program pendidikan home schooling ini juga di dasarkan atas legitimasi yang diberikan pemerintah. Apakah pemerintah mau lebih bersikap inklusif atau eksklusif dalam menyoal eksistensi program pendidikan home schooling ini yang nota bene bisa saja mengklaim dirinya setingkat dengan strata pendidikan yang sudah baku di Indonesia. Terlepas memang setiap program pendidikan yang diterapkan di Indonesia apapun itu bentuknya tidak menjamin semua aspek kognitif dan sosial peserta didik terakomodir dengan baik. Seperti halnya program pendidikan home schooling ini yang nota bene jelas tidak menspesifikasikan diri pada aspek sosialisme interaksi dan proses transformasi budaya dan sifat komunitas, namun cenderung individualistik.

www.khilafah1924.org